Pacaran Islami? Siapa Takut!
mengapa dan bagaimana muslim romantis bercinta pra-nikah
Renungi Tantangan Serius di Jalan Pacaran!
Dik Ayu, gimana perasaanmu saat menyimak kisah si Intan tadi? Kalo kamu sampe nangis, sekurang-kurangnya dalam hati, itu pertanda hatimu cukup peka, otakmu cukup tajam. (Kalo kaurasa hatimu kurang peka, baca lagi buku Nikmatnya Asmara Islami (NAI). Kalo kaupikir otakmu kurang tajam, kaji lagi buku Manajemen Cinta Musim Dingin (MCMD).) Hati yang peka dan otak yang tajam itu kita butuhin buat nganalisis fenomena semacam itu selihai-lihainya.
Ada banyak teori yang bisa kita manfaatin buat nganalisis fenomena ‘kepedasan’ di kancah pra-nikah kayak yang dirasain si Intan. Suka teori mana, Dik?
> Gimana kalo Enneagram, teori warisan kaum sufi?
> Bunda Yurida nerbitin buku penerapan teori tsb, kan?
|
Sembilan Tantangan di Jalan Pacaran: Rasa Kecewa Sifat Takabur Sifat Munafik Rasa Cemburu Sifat Pelit Rasa Cemas Sifat Rakus Sifat Otoriter Sifat Malas |
Yup! Bener, barusan terbit.[i] Baguslah kau menyukainya. Dengan manfaatin teori Enneagram sebagai ‘pisau bedah’, kita bisa merenungi sembilan tantangan serius di Jalan Pacaran pada umumnya.
Tantangan Ke-1: Rasa Kecewa
Di dalam teks kisah nyata yang dituturkan oleh Intan di atas, ada puluhan ungkapan yang dicetak dengan format bold italic (“aku tahu aku sudah tidak utuh”, “andai aku sadari …”, dst). Format penulisan begitu itu dari aku, bukan dari Intan. Maksudku, menegaskan betapa seriusnya rasa kecewa pada diri orang yang menjalani pacaran secara tidak sempurna.
Ternyata, begitu luas dan begitu mendalam penyesalan yang Intan rasakan, ya… “Sesungguhnya manusia … bila ditimpa bahaya ia berkeluh-kesah.” (al-Ma’ârij [70]: 19-20)
Jangan dikira, tantangan rasa kecewa itu akan mudah kita hadapi. Mengapa? Karena ketidak-sempurnaan yang menimbulkan penyesalan itu tidak hanya mengenai terputusnya hubungan pacaran. Biarpun hubungan pacaran kita tidak terputus, rasa kecewa itu selalu membayang-bayangi kita di Jalan Pacaran. Bagaimanapun, menurut penelitian Notarius & Markman, di dalam hubungan akrab dengan lawan-jenis itu selalu terkandung “segudang harapan”[ii] yang menjulang tinggi dan seringkali kurang realistis. Ngaku deh, kita berharap si dia (dan diri kita sendiri) berubah menjadi lebih baik, romantis, cakep, pinter, alim, setia, jujur, dll. Namun, acapkali, kenyataan tidak semanis harapan kita. Padahal, setiap kali kenyataan pahit itu tak terantisipasi, rasa kecewalah yang kita derita.
Tantangan Ke-2: Sifat Takabur
Kita gampang menderita kecewa kalo suka memperhitungkan kebaikan diri atau jasa yang diberikan kepada sang pacar (atau yang diterima dari sang pacar sebagai balasan/imbalan atas jasa itu). Disamping itu, perhitungan ‘matematis’ ini dapat mengarah pada kebanggaan yang berlebihan dan/atau tidak pada tempatnya. Siapa sih di antara kita yang nggak bangga lantaran mampu membahagiakan si dia dengan tulus mengorbankan segalanya? Siapa sih di antara kita yang nggak berbunga-bunga manakala dipuja, dicinta, dipercaya, dibutuhkan, diistimewakan? Apalagi kalo yang membuat jiwa kita melambung itu orang yang paling kita harapkan cintanya.
Untuk lebih mengenali sifat takabur di Jalan Pacaran, perhatikan kata2 Intan: [1] “Bayangkan, seorang guru…. cerita ke muridnya tentang suatu masalah pribadi yang teman2 dan orang terdekatnya pun tidak tahu.” [2] “Bayangkan, aku koreksi hasil ujian teman2ku.” [3] “Aku jadi merasa dibutuhkan Pak Arjuna, krn dia sering curhat padaku, apa pun masalahnya.” [4] “Kami semakin terlihat akrab … sampai tetangga Wati menyangka kami suami-istri.” [5] “Ada sedikit kebahagiaan di hatiku, bisa bahagiakan Pak Arjuna.” [6] “Aku tidak ingin dia merasa bersalah jika tahu aku mati bunuh diri.” [7] “Aku tidak minta CINTA, HARTA atau pengakuan.” [8] “Tapi aku tetap setia … tidak mencari pacar walau aku tahu aku bisa.” [9] “Aku sebulan sekali ke kotanya, menemuinya di sela2 kelelahan kerjaku dan kepenatan hati.” [10] “Aku setia di sini 3 tahun dengan segenap ketegaran dalam keletihan. … Tiga tahun kukorbankan segalanya.” [11] “Aku akan tanggung semua aib ini, biar… demi Mbak Eka, dan dua anaknya.” [12] “Sungguh aku tidak ingin lagi dinikahi…. walau mungkin Pak Arjuna mau.” Memang, selusin ungkapan seperti ini belum tentu menunjukkan kesombongan. Sekalipun demikian, potensinya sungguh besar dalam menumbuhkan sifat takabur.
Ketahuilah! Sungguh, manusia benar-benar melampaui batas, karena melihat dirinya sudah serba cukup. (al-’Alaq [96]: 6-7)
Maka manusia … setelah kenikmatan Kami berikan kepadanya dari Kami sendiri, ia berkata, ‘Ini diberikan kepadaku karena kepandaian [yang ada padaku].’ Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak mengerti. (az-Zumar [39]: 49)
Tantangan Ke-3: Sifat Munafik
Dik Ayu, agaknya kita udah mengerti betapa munafiknya Pak Arjuna dalam pacaran (dan pernikahan). Iya, kan? Sebab itu, tak perlulah kutunjukkan di sini. Liat aja sendiri betapa dusta kata2nya, ingkar janjinya, dan khianatnya dia terhadap kepercayaan yang disematkan kepadanya. Betapa lihai dia sembunyikan seringai serigala di balik kulit-dombanya. Belum lagi liciknya dia dalam ‘lempar batu sembunyi tangan’ ketika dituntut pertanggung-jawaban.
… Allah bersaksi, orang-orang munafik itu pembohong. Mereka menggunakan sumpah hanya sebagai selubung. … Jika kaulihat, penampilan mereka menjadikan kamu kagum; tutur kata mereka menarik hatimu. … Maka waspadalah. … (al-Munâfiqûn [63]: 1-2, 4)
Untuk lebih mewaspadai betapa seriusnya tantangan sifat munafik ini, ada baiknya kita simak dua potong kisah dari cerpen Arie MP Tamba, “Langit Merah Muda”:
“Puuuntem…!” sapaku suatu sore.
“Wah, siang-siang begini sudah datang… Apa nggak punya kesibukan, Nak Robert?” sahut ibu kosmu yang sore itu kebetulan mau keluar.
Ujian semester masih lama. Hari-hari kuliah ibarat kerja rutin yang memboyakkan. Dengan menyuguhkan senyum sopan, namun di dalam hati terdengar letup kemarahan yang kuredam, kusahuti ibu kosmu, “Ini, Bu. Ada janji dengan Mita…”
Selalu bohong-bohong kecil. Bohong-bohong kecil yang sudah menyatu sedemikian rupa dengan kepribadian. Bahkan bohong-bohong kecil itu menjadi kreatif dan penuh nuansa. Coba, apa pernah kita mendiskusikan sebelumnya tentang ‘kunjungan ke rumah sakit’ yang mau kita lakukan itu?
Karena sadar bahwa ibu kos masih mengintai kita (ia menunda kepergiannya karena kedatanganku), dengan berlagak kelupaan kau menggaruk-garuk kepala dan berkata, “Wah, aku benar-benar lupa. Untung kau datang lebih cepat… Bu, Bu, kami mau ke rumah sakit. Mau membesuk pamannya Robert ini!”
Ibu kosmu terpaksa ramah dan mulai bertanya ini itu tentang penyakit pamanku. Dan setengah jam kemudian, dalam perjalanan menuju bioskop, tak puas-puasnya kita tertawa. Menertawakan bohong-bohong kecil dan kekonyolan kita.
“Pulang kita bawa buah,” katamu.
“Iya,” sahutku. Masih merasa lucu, karena tiba-tiba aku telah memiliki seorang paman yang sedang terbaring di rumah sakit. Sejak kapan aku punya paman di kota Bandung itu? Hahahaha…
… … …
[Beberapa minggu/bulan kemudian] di penginapan kecil di daerah Kebon Kelapa. Dengan rasa curiga dan ingin tahu kau mengikuti langkahku. Daripada karena takut oleh sikap kasar yang kuperlihatkan ketika mencekal tanganmu, wajahmu merah padam lebih karena tiba-tiba ‘belum banyak’ mengenalku. Terutama, sejak minggu-minggu terakhir, ketika aku banyak menghindarimu.
Sore itu, kelihatan sekali kau ingin tahu, sampai di mana aku ‘bisa jauh’ dan ‘asing’ darimu. Kau, oleh sesuatu yang kau agungkan dalam dirimu, merasa harus terlibat sampai ‘ke akar’. Merasa harus tahu sampai di mana aku bisa sembunyi, jauh dari jangkauan… cintamu; apa namanya…
Tapi yang menuntunku ke sana adalah kebencian, Mita. Hasrat gelap ingin menyakiti. Ada rasa kecewa dalam diriku ketika menyadari teman-teman kuliah seangkatanku sedang dilantik menjadi sarjana ekonomi, sementara aku masih harus menunggu setahun lagi karena tertinggal beberapa mata kuliah. Dan kau pun muncul di kamar kosku sore itu, dengan senyum manis yang segera mendorongku berbuat keji.
Di penginapan kecil di daerah Kebon Kelapa. Belum seminggu berlalu, seorang gadis SMA berbaring di ranjang yang sama. Berkeringat dan menggeliat tanpa sedikit pun rasa malu. Sedang tubuhmu, diam meringkuk, sementara wajahmu terbakar malu.
Selamat tinggal kota Bandung, kataku esok paginya.
Begitulah. Begitu banyak korban berkaparan dilalap ‘serigala berbulu domba’. Kemarin ada korban, hari ini ada korban, besok pun mungkin ada korban lagi. Tampaknya tantangan kemunafikan ini tetap aja sering terlupakan. Tapi ini belum seberapa. Masih ada tantangan serius lain yang lebih terabaikan.
Tantangan Ke-4: Rasa Cemburu
Di antara sembilan tantangan utama di Jalan Pacaran, mungkin rasa cemburulah yang paling dikenal dan (ironisnya) paling diabaikan. Gimana enggak? Semua orang bilang, cemburu pertanda cinta. Kalo tak ada cemburu, tak ada cinta. Padahal, cemburu itu menyakitkan dan bisa mengubah cinta menjadi benci dan dendam, seperti Intan: [1] “Saat Mbak Eka cuti pulang seminggu, baru aku sadar aku hanya bayang2.” [2] “Bahkan ada muridnya yang sampai datang ke rumahnya menemui Mbak Eka, bilang mencintai Pak Arjuna. Mbak Eka mengadu habis2an pdku… tanpa dia tahu aku pun menangis menjerit di sini [di dalam hati].” [3] “Aku dendam banget. Aku setia di sini 3 tahun dengan segenap ketegaran dalam keletihan…. eh… dia malah belum sembuh2 main cewek!”
Tampaknya, cemburu jarang dianggap sebagai tantangan. Sering dikira, iri terhadap orang lain yang memperoleh kasih-sayang dari sang kekasih dianggap wajar. Kalo gitu, usaha ‘merebutnya kembali’ wajarkah? “Apakah mereka yang membagi-bagikan rahmat Tuhanmu? [Tidak.] Kamilah … yang meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mengambil manfaat dari sebagian yang lain. …” (az-Zukhruf [43]: 32)
Karena itu, Dik Ayu, marilah kita belajar lagi dari perasaan seorang cowok yang sangat kita kenal, di balik kata2 lugasnya:[iii]
Sesungguhnya, aku sering merasa cemburu kepada para kekasihmu, keluargamu, sahabatmu, pekerjaanmu, bukumu ini, and whatever you’ve ever had. Tapi, aku sadar mereka semua sering (kalau bukan selalu) lebih berhaq atas dirimu. Karenanya, aku berusaha menaklukkan kecemburuanku. Aku ingin bersikap adil kepadamu, ‘ibuku’. Betapapun cemburunya hatiku, ‘anakmu’ ini tetap mengharap-harap dongeng darimu… termasuk tentang selusin cowok yang lebih kau cintai daripadaku. (Aku bernomor 13? Waduuh, …)
Walau tiga tahun dah berlalu, telah berbulan-bulan putus hubungan-asmara, tantangan ini masih terus membayang-bayangi. Mungkin ia ‘rela’ putus-hubungan. Namun, (di lubuk hatinya yang terdalam) ia, sebagaimana kata Clarence Thomson, “tak pernah benar-benar melepas orang yang dia cintai”.[iv] Biarpun rasa cemburu dapat dia kendalikan sepenuhnya, ternyata ‘ongkosnya’ cukup ‘mahal’. Kini dia menanggung rasa rindu yang kian mendalam dan tiada henti, sedangkan si mantan pacar kian ‘jauh di mata’. Persis seperti yang tergambar dalam kliping cerpen “Monolog Seberang Jendela” karya Rusdi Rahingrat:
Kubaca suratmu. Kata demi kata tak berani kulewatkan. Penuh perhatian. Kubayangkan juga bagaimana suasana hatimu saat itu, saat kamu alirkan dengan lancar segala kandungan benakmu ke dalam surat itu.
Dalam suratmu, kamu lukiskan kehampaan hatimu sejak menaiki tangga pesawat. … Kamu merasa asing dan tak tahu berada di mana. Di sini, aku spontan berkata, “Yoko, kamu ada di sini. Di sampingku!”
Lalu pada lembar berikut, kamu bertanya tentang anggrek yang kamu tanam di bawah jendela kamarku. …
Sampai di sini aku berhenti sebentar, kupalingkan wajahku pada sebatang anggrek yang tumbuh di halaman samping, di bawah jendela kamarku. Ah, ya! Ia tampak begitu menggairahkan. Kutatap bunga itu seakan aku sedang menatap wajahmu. Semua kalimat dalam suratmu terngiang, seolah kamu mengatakan langsung untukku. Aku seakan dapat melihat bibirmu lewat kelopak anggrek itu, bergerak naik turun mengucapkan kalimat-kalimat itu.
Ah, Yoko. Aku merasa… Betapa sukmaku melayang-layang! … Kita hanya bisa bermesraan dan berdialog dalam diam. Karena cinta kita adalah darah yang mengaliri kelopak-kelopak anggrek yang purba!
Tantangan Ke-5: Sifat Pelit
Sebagaimana rasa cemburu, sifat pelit pun tergolong tantangan yang paling terabaikan. Bedanya, rasa cemburu terabaikan lantaran terlalu dikenal, sifat pelit terbaikan lantaran kurang dikenal. “Sesungguhnya manusia … bila mendapat kebaikan [kelapangan] ia pelit.” (al-Ma’ârij [70]: 19, 21)
> Benarkah pelit itu tantangan di Jalan Pacaran?
> Bukankah biasanya kita malah royal ama si dia?
Itulah. Kita sering ‘dermawan abis’ ama si dia, tapi cetil nggutil metitil terhadap ‘orang lain’ yang bolehjadi justru lebih berhaq menerima ‘sedekah’ kita. Ambil contoh, Intan sangat murah-hati kepada Pak Arjuna. Sampai2, selaput daranya, bagian dari tubuhnya yang paling berharga, dia persembahkan kepada Pak Arjuna, pria yang tidak (atau belum) berhak menerima pelayanan seksualnya. Ironisnya, Intan “tidak bersalaman atau minta maafan” dng kakak2nya, biarpun sudah berkumpul di rumah orangtua di hari lebaran. Dia cuek aja…
Apakah mengulurkan sebelah tangan untuk bersalaman dengan saudara itu lebih berat ketimbang membuka seluruh aurat dan menyerahkannya bulat2 kepada lelaki yang bukan suami kita? Aneh…. Apakah dermawan namanya, kalau kita royal memberi ‘hadiah’ hanya kepada kekasih yang kita dambakan cintanya? Tidakkah kikir namanya, jika kita enggan ‘bersedekah’ kepada orang2 yang berhak menerimanya, cuma karena mereka tidak kita dambakan cintanya, padahal pemberian itu sebetulnya ringan bagi kita? Pasti pelit namanya, bila kita cuek tak peduli akan kebutuhan saudara2 kita, dan hanya berasyik-masyuk, seolah dunia milik berdua.
> Hmmm… masih tulalit nih. Kenapa sih
> pelit itu tantangan di jalan pacaran?
Ingat, dalam pacaran terdapat segudang harapan. Kita pengen, pengen banget, hubungan kita sukses. Untuk itu, lebih2 karna manusia adalah makhluk sosial, kita pasti membutuhkan dukungan dari orang2 lain, khususnya yg deket ama kita. (Bila kita kikir terhadap mereka, mana mungkin kita peroleh dukungan dari mereka?) Emang sih, seringkali kita baru ngerasain kebutuhan ini ketika kita udah ‘jatuh dan tertimpa tangga’. (Contohnya, si Intan yg suka cuek pun sampe mengeluh, “Tiga tahun aku terjerumus… tanpa tahu pada siapa harus bertanya dan mengadu. Keluargaku tak ada yang tau, juga teman2ku.”) Seandainya keluarga dan temen2 kita ngedukung hubungan kita sejak awal, tentu mereka takkan membiarkan kita gagal dan terpuruk begitu.
Selain itu, pelit terhadap orang lain dan royal kepada sang pacar membuat penyaluran energi kita terfokus pada si dia saja, sehingga cenderung berlebihan. Contohnya: Intan, dalam puncak emosinya, dengan ceroboh berkata, “Aku yakin Bapak orang yang baik,” ketika diajak Pak Arjuna untuk menginap di hotel berdua. Dan semua terjadilah…. Mudah pula si pacar menjadi sasaran pelampiasan emosi, seperti dalam cerpen “Langit Merah Muda” yang aku kliping di atas. Di situ dikisahkan, Mita diperdaya Robert yang merasa kecewa ketika teman-teman kuliah seangkatan diwisuda. “Dan kau pun muncul di kamar kosku sore itu, dengan senyum manis yang segera mendorongku berbuat keji.”
Nah! Sifat pelit itu tantangan serius, kan? Makanya, ini kudu kita pertimbangkan matang2 sewaktu kita hendak atau pun udah jadian.
Tantangan Ke-6: Rasa Cemas
“Horeee…!” Mungkin gitu sorak-sorai batin kita saat jadian. Namun, kita segera disergap rasa takut kehilangan si dia. Ikatan dah ada, tapi belum sekuat ikatan perkawinan. Siapa tau, sewaktu-waktu ada kompetitor yang ngajuin ‘proposal’ yang lebih menggiurkan si dia, kan? Bisa2 kita tersisih sebelum ‘masuk final’. Belum lagi, kalo masa menunggu peresmian hubungan di depan penghulu itu berlangsung lamaaa dan lamaaa… Kayak yang dialami si Intan: “Aku tak berdaya menghadapi … janjinya, mengulur waktu dan ketidak-siapannya… Entah berapa kali aku hampir bunuh diri dan gila.”
Rasa takut kehilangan si dia, takut dianggap tak setia, takut putus-hubungan, bisa menyebabkan cewek2 tertantang saat ditodong sang pacar, “Buktikan cintamu padaku!” Celakanya, meskipun semuanya telah diserahkan untuk ‘bukti cinta’, rasa cemas itu tak berkurang, tetapi justru bertambah. Ironis, kan?
Percaya nggak percaya, simak aja sepenggal true story berikut ini.[v] (Semua nama yang digunakan samaran.)
20 Desember 2002
Diary… masih inget Dany enggak? Dia itu teman SD-ku yang sekarang satu sekolah sama aku. Dia sekarang lagi deketin aku, lho. Dia suka nelepon terus ngajak ngobrol di sekolah. Aku juga lumayan suka sama dia. Habis dia baik, dan kita kan memang teman lama. Apalagi aku kenal sama nyokapnya pula. Pokoknya lagi happy nih. ….
1 Januari 2003
‘Ry, kamu enggak bakal percaya sama kejadian yang menimpaku semalam. Aduh… aku sedih banget ‘Ry… Tadi malam, acara bakar ayam di rumah Ali [acara tahun baru] kelarnya jam 01.30. Tiba-tiba hujan deras ‘Ry! Kebetulan rumah Dany dekat sama Ali. Jadi dia ngajak aku ke rumahnya buat nungguin hujan berhenti. Tapi enggak juga berhenti. Rumah Dany kosong, jadi kita bebas pacaran.
Aku sempat ketiduran di sofa. Terus Dany nyaranin aku tidur di kamarnya supaya lebih enak. Di sana Dany ngajak aku make love! Herannya aku mau ‘Ry. Rasanya kayak antara sadar dan enggak. Habis aku sayang banget sama dia. Ya sudah… kita ngelakuin “itu”. Setelah itu kita ketiduran karena sudah malem banget.
Jam 03.30 aku bangun dan minta dianterin pulang. ….
Tapi sore ini pas di kamar mandi aku baru kerasa. Vaginaku kok nyeri. Terus aku kepikiran malam tadi. Aku nyesal banget ‘Ry. Sumpah! Aku nangis di kamar mandi supaya enggak ketahuan. ….
9 Januari 2003
‘Ry… sudah lima hari ini aku enggak bisa tidur. Aku merasa berdosa banget. Aku sampai nekat minum obat supaya bisa tidur. Aku makin stres lagi karena hubunganku sama Dany jadi enggak jelas. Dia jadi cuek banget, Ry. Aduh gimana dong…! ….
7 Februari 2003
Aduh ‘Ry… aku takut banget!. Aku kok belum juga mens ya? Kacau nih! …. Aku deg-degan banget, ‘Ry. Malam ini aku berdoa sambil nangis-nangis. Ya Tuhan… tolong aku. Jangan sampai aku hamil. Aku berjanji enggak bakal ngelakuin itu lagi….
Tuuuh… Nyerahin segalanya buat ‘bukti cinta’ malah bikin lebih cemas, kan? Makanya, hai cewek2, ati2 ya!
Cowok2 ati2 juga, dong! “Sungguh, manusia tercipta serba gelisah.” (al-Ma‘ârij [70]: 19) Rasa cemas gitu nggak dimonopoli kaum Hawa. Contohnya, kendati si Dany tuh jadi cuek banget, paling2 itu cuman usaha dia buat nutup2in gemuruh ‘air terjun’ di hatinya. Di dalam benaknya, setiap hari dan setiap malam si cowok dicecar pertanyaan gencar yg membuat masa depannya tampak gelap-gulita:[vi]
Akan mengandungkah dia? Kalau ya, bagaimana …? Ia akan mengadu kepada orangtuanya, dan orangtuanya akan memaksa saya untuk kawin. Sedangkan saya belum selesai sekolah. Kalau saya tolak, ia dapat mengadukannya ke Pengadilan … Apa nanti kata orangtua dan orang-orang di kampung saya yang telah melepas saya ke Jakarta dengan segala penghormatan dan harapan?
Tantangan Ke-7: Sifat Rakus
Berbeda dari rasa cemas, sifat rakus sering sulit untuk dikenali, terutama bila tumbuh bersamaan dengan sifat munafik. Sifat ‘buaya darat’ ini bisa bersembunyi atau tersembunyi di balik dorongan ‘manis’: “Dia tetap akan melangkah di sisiku, menemaniku, dan tidak akan meninggalkanku. Pak Arjuna bilang, dia menyayangiku… tapi belum bisa beri cinta, apalagi harta, karena dia tidak ingin memberiku harapan muluk untuk menikahi aku.” Mengapa Pak Arjuna tak ingin meninggalkan Intan tanpa memberi harapan untuk mengawininya? Tentu karena dengan begitu, ia bisa menikmati tubuh Intan tanpa ‘ongkos’ menikahi dan menafkahinya.
Dik Ayu, kau tentu pernah denger hadits bahwa walaupun mempunyai dua lembah emas, manusia masih tetap menginginkan lembah emas yang ketiga. Karena itu, sifat rakus bisa pula ngumpet di balik kata2 apologis sebagai berikut: “Pak Arjuna bilang tidak mencintai keduanya. … Sebelum nikah, Mbak Eka menyerahkan tubuhnya pada Pak Arjuna, lalu menikahlah mereka. … Pak Arjuna pun menikahi Mbak Dwi, yang juga dia hamili sebelum dinikahi.” Jadi, terpaksakah ia menikahi keduanya? Kalau tidak ingin terpaksa menikahi, ya jangan menghamili, dong! Apakah Pak Arjuna terpaksa menghamili mereka? Nyatanya, setelah mendapatkan kepuasan dari Mbak Eka, Mbak Dwi, dan si Intan, Pak Arjuna tetap berburu kesenangan, menjadi ‘petualang cinta’, playboy, “belum sembuh2 main cewek”. Rakus, kan?
Menjadi ‘petualang cinta’ yang rakus itu tidak selalu bermodus playboy (atau playgirl). Sifat rakus di dunia asmara bisa berpola gonta-ganti pasangan. Tanda2nya: tak betah ngejomblo lama2, jadian bukan demi kebutuhan psikologis atau menuju siap-nikah, melainkan lantaran sebab2 lain seperti ‘iseng’ atau karena sedang ‘lowong’. (Seperti kanak2 yang suka makan snack bukan demi gizi, melainkan karena tergiur kelezatan. Ambil satu kue di satu toples, cicipi sekali, kembalikan ke tempat semula. Lalu comot satu kue lain di toples lain, gigit sekali juga, masukkan kembali ke tempatnya. Kemudian ambil satu kue lain lagi di toples lainnya, … begitu seterusnya sampai bosan sendiri.) Pola gonta-ganti pasangan ini bisa saja tidak bergandengan dengan sifat munafik.
Akan tetapi, bahkan jika tidak disertai dengan sifat munafik sekalipun, tantangan sifat rakus ini tak kalah seriusnya. Bentuknya yang paling membahayakan adalah pengumbaran nafsu birahi tanpa malu2. Apologinya, misalnya: “Kami melakukannya suka sama suka atas dasar cinta. Kami tidak munafik; seks itu kebutuhan biologis kami.” Memang tidak munafik, tetapi ‘kafir’! Mereka mengingkari kedewasaan (baca: ke-akil-balig-an) diri dengan berperilaku kekanak-kanakan. Kayak balita yg tak dapat menahan diri, tanpa malu2 mencicipi segigit demi segigit kue2 di semua toples.
Tantangan Ke-8: Sifat Otoriter
Lain dengan sifat rakus yang kekanak-kanakan, sifat otoriter justru ‘ketua-tuaan’. Kenapa kusebut ‘ketua-tuaan’? Karena, orang yang otoriter itu memandang dirinya ‘ketua’. Orang lain diperlakukannya bagai bayi yang bisa disetirnya seenak perutnya. Ia tak sadar, “Dialah [Allah] yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian [yang lain] beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. …” (al-An‘âm [6]: 165)
Bagaimana dengan ‘penguasa’ di Jalan Pacaran?
Pernah lihat kan, pasangan yang baru pacaran aja udah berani ‘main kasar’ sama pacarnya…. Pake nampar-nampar anak orang. Itu belum pasti jadi pasangan hidupnya. Lha, kalau nanti jadi suami-istri, gimana? … Belum lagi yang memiliki kecenderungan untuk selalu jadi pemenang, maka dia akan menjadi sosok-sosok posesif yang selalu ingin menguasai orang lain, mengekang kebebasan orang lain, atau berbuat apa pun untuk mempertahankan ‘miliknya’.[vii]
Selain pada ‘main kasar’, sifat ingin menguasai orang lain itu tampak jelas dalam bentuk ancaman. Seperti yang diceritakan si Intan: “Lewat tlp ke hpku Mbak Eka bilang, jika aku nekat datang, dan dia nekat mempertemukan kami bertiga, Pak Arjuna akan pergi dari rumah itu dan tidak akan kembali untuk selamanya.” Perlu kita perhatikan, ancaman itu tidak selalu diungkap secara verbal. Ngambek, mogok bicara, uring2an, dsb, ketika sang pacar melakukan sesuatu yang kita benci (atau pun tidak melakukan sesuatu yang kita sukai), merupakan gejala otoriter pula.
Selain itu, sifat otoriter muncul pula dalam wujud sikap menggurui. Seperti Haidar terhadap Mila (‘aku’) dalam novel Abidah El Khalieqy:[viii]
“Sepertinya kau masih marah padaku, Mila. Bukankah aku sudah minta maaf? Lagipula, masalah itu sudah dimakan waktu. Cobalah kita melupakannya. Hari esok masih panjang dan kita tidak bisa terus-menerus seperti ini.”
“Terus-menerus seperti ini?”
“Ya, seperti dua pihak yang saling tidak kenal satu sama lain. Aku di kutub utara dan kau di kutub selatan. Padahal sebenarnya yang terjadi, kita saling membutuhkan, saling merindukan, dan keinginan kita adalah bersatu. Jangan kau pungkiri itu.”
Jika pun aku merindukannya, ucapan Haidar membuatku muak. Rasanya, hingga matahari terbenam di ufuk timur pun, aku takkan mengaku bahwa aku merindukannya, diam-diam merindukannya. Aku tidak suka ditebak seperti teka-teki silang. Yang kusukai adalah jika aku ingin mengatakannya, akulah yang harus mengatakannya sendiri, bukan pihak lain. Sebab, akulah yang berhak atas perasaan dan pikiranku, untuk mengekspresikan ataupun mengutarakannya pada dunia, seperti apa mauku, dan sekali lagi bukan pihak lain. Tetapi Haidar selalu mendahuluiku.
Tantangan Ke-9: Sifat Malas
Berbeda dari sifat rakus yang mendorong kita bergerak liar ke segala arah, sifat malas membuat kita terlalu tenang, tak beranjak ke mana2. “Jika Kami memberi kesenangan kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri. …” (Fushshilat [41]: 51) Akibatnya, urusan2 penting menjadi tertunda-tunda dan bahkan bisa sampai terbengkalai. Itu terjadi pula pada diri Intan ketika sedang asyik menikmati hubungan asmara yang menghanyutkan: “Lulus sekolah, aku sudah lupa dengan cita2 dan harapan ortu. Aku malas ngelanjutin kuliah.”
Mungkin ada yang bilang, “Pacaran gue tuh, buat penyemangat belajar, memotivasi jadi lebih baik.” Kalo ini sempet terpikir olehmu, yuk kita renungkan sentilan dari mbak Vida:[ix]
Apa iya, pacaran bikin semangat belajar? (emang energy drink?) Tapi, memang ini yang paling sering diakui secara berjamaah sama temen-temen kita. Gimana nggak? Yang biasanya lelet, males bin suntuk sama yang namanya ruang kelas, sekolah, dan semacamnya, tiba-tiba jadi bener-bener ekstra jooos! Rajin sekolah, catetan rapi. Brubaaah! … Alasannya? Ya, pasti buat ehm… jaim (jaga image) sama si pencuri hati. Walah!
Yang jelas, kalaupun ada yang punya pacar terus jadi tambah alim, tambah pinter, tambah banyak hal yang baik-baik, justru perlu dipertanyakan lagi. Perubahan pada diri kita itu karena apa?
Kalau jadi lebih rajin, lebih saleh-salehah, lebih pinter, lebih rajin datang ke kajian karena ada makhluk yang kita jadikan pujaan, aduuuh sayang sekaleee! Sudah belum tentu dapet respons dari para malaikat karena nggak ikhlas, terus kalau makhluk yang kalian cari perhatiannya itu ternyata biasa aja, pasti kalian akhirnya dongkol, sebel, ujung-ujungnya mogok ngelakuin hal-hal baik tadi.
Trus, kalo sifat malas ini merger ama sifat pelit lalu bikin koalisi ama rasa kecewa lantaran putus-hubungan, apa bukan ‘badai Tsunami’, tuh? “Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika ditimpa malapetaka, ia pun berputus asa, kehilangan segala harapan.” (Fushshilat [41]: 51) Kayak yang digambarin Abidah El Khalieqy nih:[x]
Hari itu, hari tergelap dalam hidupku. Matahari padam. Lindu menggoyang bumi, merontokkan seluruh daun masa depanku. Aku buta, tak tahu, dan tak melihat apa pun selain gulita. Selaksa gua minotaur menelanku untuk sarapan paginya. Tetapi aku juga lupa pagi hari atau siang begitu benderang. Apa peduliku dengan waktu, dengan ruang, sekalipun ia menjadi pedang, bahkan tumpukan dolar atau timbunan pundi emas. Apa peduliku dengan semuanya, kini.
Bumi hanyalah ruang kosong dan gelap. Jika matahari cintaku padam, entah berapa triliun bolam harus kunyalakan. Entah di mana aku tengah berdiri saat ini. Jika kamboja merekah, bukankah kuburan dan taman memiliki keharuman serupa? Antara kemarin dan esok, hari ini pedang waktu diasah. Setajam apa ia jika ribuan peluru tak membuatku berdarah?
Seperti salju, kini aku membeku.
[i] Judulnya, Kepribadian Romantis Yang Mengasyikkan (KRYM).
[ii] KRYM: 73.
[iii] Nikmatnya Asmara Islami (NAI): 141.
[iv] KRYM: 35.
[v] Majalah Kawanku, No. 51/XXXII, 16-22 Juni 2003, hlm. 16-17.
[vi] NAI: 112.
[vii] Robi’ah Al-Adawiyah, Kenapa Harus Pacaran?! (KHP), hlm. 123 dan 125.
[viii] Abidah El Khalieqy, Atas Singgasana (AS), hlm. 90-91.
[ix] KHP: 107, 110-111.
[x] AS: 190-191
DIarsipkan di bawah: Cinta